Sekadar Curhat Aja Kok!

Ini tulisanku yang ketiga di tahun 2018, aku belum menulis apa-apa lagi sejak bulan Januari kemarin padahal banyak banget yang mau aku ceritain di blog. Sibuk? nggak juga, lebih ke kebanyakan mikir mau nulis apa sampai akhirnya nggak jadi nulis atau lebih ke bikin konten buat posting di Instagram dan ceritanya di caption aja, padahal niat awalnya foto-foto di Instagram mau di upload juga buat foto artikel postingan blog. Namanya juga manusia biasa, banyak rencana, tapi sedikit yang terlaksana #selftoyor. 

Lewat tulisan ini aku mau curhat beberapa ketakutan atau kekhawatiran yang-sebenarnya-nggak-perlu-terlalu-dipikirin karena belum tentu terjadi juga saat aku mau menulis sesuatu di blog, yaitu:

  1. Khawatir dibilang lagi galau: Ada banyak ide di kepala untuk menulis puisi atau cerpen romantis di blog yang akhirnya nggak jadi aku posting karena khawatir dibilang lagi galau padahal emang lagi pengen nulis yang “manis-manis” aja sih. Netizen jaman now kan demen banget tuh mengartikan postingan seseorang sebagai “curhat colongan” atau curhat tipis-tipis, padahal aku kalau mau curhat blak-blakan gini nulisnya. Hehehehe :)))
  2. Khawatir dibilang lagi nyindir atau nyinyir: Melihat berbagai macam kejadian di dunia nyata yang jadi viral di dunia maya membuat isi kepalaku penuh dengan komentar dan opini yang pengen aku tuangkan dalam bentuk tulisan, namun lagi-lagi aku memilih untuk tidak mempostingnya di blog, daripada nanti dikira nyindir atau nyinyir. Masyarakat dunia maya saat ini hatinya selembut tahu tofu, yang senggol sedikit langsung ancur lumer, sensitif gitu deh. Baca tulisan yang nggak sesuai dengan ego dan pendapat mereka, langsung deh nyerang ke personal penulisnya, nggak fokus dengan apa yang jadi bahasan di tulisannya. Nggak perlu kasih contoh lah ya, udah banyak juga yang kena jerat pasal UU ITE gara-gara postingan blog.
  3. Khawatir dibilang receh tulisannya: Salah satu rasa khawatir yang sering sukses bikin aku akhirnya nggak jadi nulis di blog. Berada di lingkungan penulis-penulis besar dan blogger tenar itu secara tak langsung memberi tekanan pada mentalku untuk menulis. But, hei! akhirnya aku sadar kalau aku nggak bisa terus-terusan minder dan membandingkan diriku dengan yang lain. Sebuah percakapan dengan seorang kenalan di kedai kopi beberapa hari lalu yang menyadarkanku bahwa menulis di blog itu bukan tentang receh atau tidak tulisanmu, bakal dilirik dan dibayar oleh brand nggak tulisanmu, tapi tentang belajar untuk terus menulis dan mengolah rasa dalam bentuk kata. #ciyegitu
Baca juga:  Tips Menjaga Kebersihan Saat Menstruasi.

Yak, terima kasih buat kalian yang sudah mau membaca curhat singkatku ini. Jarang-jarang lho aku curhat blak-blakan seperti ini, hehehe (^_^)v

Kalau diantara kalian ada yang pernah merasakan kekhawatiran yang sama seperti diriku atau kalian punya kekhawatiran yang lain, feel free untuk sharing perasaan kalian di kolom komentar ya!

xoxo,

Upit :*

You may also like

2 comments

  1. Halo Pit, memang sih jaman sekarang ngerih netijen ya. Sering jadi dagdigdug kalo pas mau nulis. Jangan-jangan ina-ini-inu. Makanya sekarang lebih milih nulis tentang personal finance dari apa yang kutahu aja. Hehehe.

    1. Halo mas Dani, terima kasih yaa sudah sharing 😀
      Iyaaa, bener banget! Jadi lebih milih-milih topik, sisi positifnya sih jari tangan jadi punya filter ya, nggak semua-semua ditulis..hehehe
      Btw, aku suka baca-baca blogmu tentang personal finance mas, udah ku tandain juga kalau ada klien yg cari finance blogger (^_^)v

Leave a Reply