Smart City, Kota Dengan Banyak Solusi Bukan Aplikasi.

SMART CITY, KOTA DENGAN BANYAK SOLUSI BUKAN APLIKASI – Melihat perkembangan kota saat ini yang semakin mengkhawatirkan akibat pertambahan penduduk yang tak terkendali sehingga menimbulkan banyak masalah-masalah yang harus diselesaikan dengan cepat dan tepat. Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, tingkat pertumbuhan penduduk di perkotaan 2,75% pertahun, lebih besar dari nasional 1,17% pertahun. Di tahun 2015 saja sudah ada 59,35% penduduk sudah hidup di kota, dari data statistik di bawah ini dapat kita lihat bahwa di tahun 2045 esok 82,37% penduduk akan hidup di kota!

Tentu saja hal tersebut menyebabkan ketimpangan perkembangan jumlah penduduk yang tinggal di kota.

Dengan adanya banyak ketimpangan tersebut, maka akan banyak muncul masalah di perkotaan. Saya bukan pakar tata kota, tapi hanya masyarakat biasa yang “melek” dengan perkembangan serta masalah yang terjadi di tanah air, khususnya kota tempat saya tinggal saat ini. Saya dilahirkan dan besar di kota pahlawan, Surabaya yang kemudian pindah dan menetap di ibukota Indonesia, Jakarta. Keduanya merupakan kota besar di Indonesia yang padat jumlah penduduknya dan memiliki isu perkotaan multidimensi dan multisektor. Tak menutup mata, bahwa masalah dan tantangan dibawah ini yang sedang kita hadapi saat ini, yaitu:

Pemerintah kita saat ini memiliki kebijakan pengembangan perkotaan nasional, yang terdiri dari banyak sekali agenda pembangunan berkelanjutan. Masih ingat kan bulan Oktober tahun 2016 lalu digelar Habitat III Conference di Quito, Ecuador. Kebijakan pengembangan perkotaan nasional yang diterapkan pemerintah kita saat ini tak lepas dari hasil Habitat III Conference yaitu New Urban Agenda dengan merangkul urbanisasi di segala tingkat pemukiman, kebijakan yang tepat dapat merangkul urbanisasi di ruang fisik serta menentukan seberapa relevan tujuan pembangunan berkelanjutan akan didukung melalui urbanisasi berkelanjutan. Bisa dibilang New Urban Agenda akan fokus pada kebijakan dan strategi untuk memanfaatkan kekuatan dibalik urbanisasi secara efektif.

Lalu apa hubungan antara pembangunan kota berkelanjutan dengan Smart City Indonesia

Kota masa depan Indonesia adalah kota berkelanjutan dan berdaya saing yang memiliki 3 pilar yaitu:

  1. Kota Layak yang aman dan nyaman.
  2. Kota Hijau yang berketahanan iklim dan bencana.
  3. Kota Cerdas yang berdaya saing dan berbasis teknologi.

Sejatinya 3 pilar inilah yang harus dipahami terlebih dahulu, karena Smart City tak hanya sekadar teknologi, bukan kota dengan banyak aplikasi namun kota yang memiliki banyak solusi.

Smart City, Smart People!

sebab mencintai tanah air, nak, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat, dengan sesuatu yang disebut Indonesia, atau Jepang, atau Amerika. —  Goenawan MohamadCatatan Pinggir 4

Kota yang cerdas harus memiliki modal berupa sumber daya manusia yang cerdas dan positif. Karakter manusia yang positif inilah modal dan pondasi utama dalam ekosistem digital smart city yang kemudian ditopang oleh kebijakan dan infrastruktur dari mobility, governance, economy dan environment yang juga cerdas sehingga menghasilkan kualitas hidup yang cerdas seperti yang diinginkan. Pengembangan tata kelola Smart City Indonesia memiliki 3 pilar yang dikembangkan oleh Telkom, yaitu:

 

Sumber: Telkom Indonesia dalam Seminar Indeks Kota Cerdas Indonesia, 2015

Ada banyak sekali tulisan yang mengulas Smart City, serta kota-kota yang sudah menerapkan Smart City di kotanya. Sebagai generasi muda yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, membaca artikel saja tak cukup bagi saya, pada satu kesempatan saya berdiskusi dengan teman-teman komunitas Indonesia Berkebun mengenai Smart City. Bukan suatu kebetulan, jika ada anggota dari komunitas ini yang berdomisili di kota yang sudah menerapkan Smart City, seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Banyuwangi yang kabarnya sedang merancang konsep Smart City serta ada seorang anggota yang saat ini tinggal di Singapore pun ikut dalam diskusi singkat mengenai Smart City. Ada tiga pertanyaan dari saya yang menjadi bahan diskusi, yaitu

  1. Apakah teman-teman yg berada di kota tersebut setuju jika kotanya disebut sebagai smart city?
  2. Alasannya apa?
  3. Penerapan smart citynya di aspek apa saja?

Berikut ini adalah jawaban mereka:

“Smart city mungkin dari aspek teknologi ya, misalnya pengaturan lalu lintas otomatis, transportasi modern, pemakaian energi minimum atau terbarukan dll. Tapi, Jakarta belum Smart City”. — Achmad Marendes, Jakarta Berkebun

“Jakarta sebenernya udah ada fasilitas buat jadi smart, cuma belum terintegrasi. Kesadaran untuk menjaga fasilitas seperti CCTV dan mesin lainnya juga belum baik. Itu sih yang aku lihat di beberapa sudut kota”. — Somad, Jakarta Berkebun

“Green Community  juga bagian dari penunjang smart city…dimana Smart city tidak hanya mengutamakan kemajuan teknologi. Sebuah kota yang pintar adalah kota yang dapat menyelaraskan kemajuan teknologi tanpa merusak lingkungan”. — Bayu, Banyuwangi Berkebun

“Kalau di Makassar ini yg aku liatnya, smart citynya yg lg di godok ke transportasinya, kemarin pemkot melaunching pete2 smart, kenapa katanya smart, krna di dalamnya ada wifi, ada pendingin udara. Pete2 ini katanya bakalan mengganti pete2 yg sudah ada sebelumnya. Jadinya bikin rancu juga, yg smart yg ada wifinya kali ya? Anyway, pete2 itu semacam angkot”. — Tami, Makassar Berkebun

“Saat ini di Jakarta ada 123 lokasi RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) gelombang ke-2 yang didanai APBD dan didesain oleh 11 konsultan arsitek, termasuk saya”. — Sigit Kusumawijaya, Arsitek, Jakarta Berkebun

“Smart city tergantung cara mendefinisikannya, kalo di Indo kota2 pintar didefinisikan kalo menurut saya masih d level smart tech.. dan itu wajar krn permasalahan yg dihadapi, kondisi dan situasi politik ekonomi yg berbeda di tiap2 negara”. — Adelia Sukma, Singapore

Dari pendapat beberapa teman diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa kata kunci untuk Smart City adalah Informasi Teknologi, Pelayanan publik, Efisiensi, Efektif dan Transparasi. Ada 6 komponen Smart City di Indonesia menuju kota berkelanjutan beserta Strategy Pengembangannya, yaitu:

  1. Smart Environment: Pengelolaan lingkungan berbasis IT, Pengelolaan SDA berbasis IT, Pengembangan sumber energi terbarukan. Strategi: Mengembangkan networking informasi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan
  2. Smart Infrastructure: Pengembangan jaringan IT, Pengembangan transportasi berbasis IT, Pengembangan sistem infomasi, manajemen berbasis IT. Strategi: Mengembangkan akses dan jaringan informasi berbasis teknologi secara luas dan mengembangkan sarana dan prasarana sistem pengelolaan transportasi berbasis ICT secara cepat.
  3.  Smart Governance: Pengembangan e-governance, Ada partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan. Strategi: Membangun jaringan komunikasi pemerintahan.
  4. Smart Economy: Pengembangan City Branding, Pengembangan kewirausahaan, Pengembangan e-commerce. Strategi: Mengembangkan pencitraan kota (city branding) berbasis IT.
  5. Smart People: Pendidikan dan pengembangan SDM yang melek teknologi, Dukungan penelitian, Pengembangan karakter sosial dan budaya masyarakat. Strategi: Mengembangkan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
  6. Smart Living: Kemudahan akses terhadap layanan pendidikan, Kemudahan akses terhadap layanan kesehatan, Pengembangan peran media, Kemudahan akses terhadap jaminan keamanan. Strategi: Meningkatkan kemudahan akses terhadap pelayanan pendidikan, informasi, dan pengetahuan yang berbasis IT.

Menurut Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Ada 3 Fokus Pengembangan Smart City 2015 – 2019, yaitu:

Implementasi Tata Kelola Smart City

Ada banyak kota di Indonesia yang disebut-sebut sebagai Smart City Indonesia, namun beberapa kota di bawah ini adalah kota yang implementasi tata kelola smart citynya menjadi percontohan yang menginspirasi kota lain.

E-Goverment Kota Surabaya

Dalam konsep e-monitoring, pemerintah kota Surabaya bisa memantau situasi seluruh kota, mulai dari lalu lintas jalan raya hingga kondisi tempat pembuangan sampah. Kabar terbaru dari kota Pahlawan ini adalah, kota Surabaya memiliki foto udara dan lidar yang gunanya untuk mempermudah perijinan yang dapat menjadi panduan bagi para investor berinvestasi di Surabaya. Karena foto lokasinya menjadi lebih detail dan lebih jelas, lokasi difoto pada jarak 750m dengan pesawat, kenapa 750m? karena jadi jarak ideal. Lalu apa itu Lidar? Lidar adalah teknik pengambilan data dengan menggunakan teknologi laser. Fungsinya untuk mengetahui ketinggian dan bentuk dari permukaan tanah. Peta udara ini pertama kali ada di Indonesia dan rencananya menjadi percontohan nasional.

Smart Governance Kota Bogor: Layanan Puskesmas Online

Sumber: Bappenas

 

Smart Governance Kota Bandung

Sumber: Bappenas

Dari komponen smart city, strategi hingga fokus pengembangan Smart City semuanya tak hanya bertumpu pada teknologi semata, namun juga mengedepankan komunikasi dan koordinasi yang terintegrasi pada semua sektor publik. Kita sebagai masyarakat yang cerdas jangan salah kaprah lagi mengartikan Smart City Indonesia  hanya sebagai kota yang banyak teknologi dan aplikasi, karena sesungguhnya Smart City adalah kota cerdas yang memiliki banyak solusi, bukan aplikasi. Kota cerdas yang berkelanjutan dan berdaya saing untuk kesejahteraan masyarakatnya.

Salam,

Semoga bermanfaat 🙂

Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati..” — Goenawan MohamadCatatan Pinggir 4

Artikel ini diikutkan dalam Gamatechno Blog Writing Competition

Blog Writing Competition Gamatechno

You may also like

1 comment

Leave a Reply