Fitria Dwi Sulistyowati dan Keteguhan Berkebun.

Fitria Dwi Sulistyowati dan Keteguhan Berkebun. — UPIT, sapaan akrab Fitria Dwi Sulistyowati, jatuh cinta pada tanam-menanam sejak SMP. Tepatnya saat umurnya masih 14 tahun. Kala itu Upit memang suka betul pada pelajaran biologi. ’’Paling gampang di antara pelajaran-pelajaran lainnya. Aku sangat senang belajar tentang alam, hewan, dan tumbuhan,’’ ujarnya.

Sejak saat itu, dia memilih bergabung dalam ekstrakurikuler karya ilmiah remaja (KIR). Lewat aktivitas tersebut, Upit dan kawan-kawannya banyak melakukan penelitian. Termasuk cara merawat tanaman di dalam green house sekolahnya. Sejak tahu dan paham cara merawat tanaman, perempuan 23 tahun itu menyatakan benar-benar jatuh cinta terhadap kegiatan berkebun.

Setelahnya, dia selalu berkebun bersama sang mama dengan memanfaatkan halaman belakang dan teras depan rumahnya untuk meletakkan toga (tanaman obat keluarga) di pot-pot berukuran kecil hingga besar. ’’Iya, dulu suka menanam toga karena sangat bermanfaat,’’ ungkap Upit.

Pada 2014, melalui internet dan buku-buku yang dibaca, Upit mengenal hidroponik. Teknik bercocok tanam tanpa media tanah itu pun langsung dicoba. Langkah tersebut tentu berhasil menginspirasi banyak orang. Sebab, berkebun ternyata bisa dilakukan di lahan terbatas. Bahkan tanpa media tanah. Artinya, tidak ada alasan lagi bagi warga kota metropolitan untuk tidak menghadirkan nuansa hijau di setiap hunian mereka.

Sudah lebih dari setahun Upit menekuni hobi yang kata orang bisa menurunkan tingkat stres itu. Awalnya, dia menanam enam macam tanaman. Ada green oak leaf, red oak leaf, romaine lettuce, green lettuce, basil, dan kale. Namun, ternyata hanya empat macam yang mampu tumbuh ideal. Yang sulit tumbuh adalah green oak leaf dan red oak leaf.

’’Semuanya memang tanaman Eropa dan sepertinya sekarang sedang booming. Banyak yang membutuhkan,’’ tuturnya. Selain itu, tanaman-tanaman tersebut, menurut Upit, membutuhkan sinar matahari yang banyak dan cocok ditanam di Surabaya.

Sekali panen, Upit bisa menghasilkan minimal 10 kg untuk tiap sayuran. Biasanya, keluarganya akan memanfaatkan basil dan kale untuk membuat pasta serta smoothie. Sementara itu, romaine dan green lettuce yang merupakan bangsa selada digunakan untuk membuat nasi goreng atau masakan lainnya. Tidak hanya dikonsumsi sendiri, hasil berkebun itu pun menjadi sarana berbagi bagi para tetangga, sanak saudara, dan kawan setiap anggota keluarga.

Baca juga:  Karena Suka Posting Makanan, Gadis Ini Jadi Rajin Diundang Incip Menu Baru.

Tidak langsung sukses, alumnus Fakultas Perikanan dan Perairan Universitas Airlangga itu juga mengalami jatuh bangun. Tanamannya diserang hama, mati karena cuaca buruk, serta panas-hujan yang tidak menentu. Faktor-faktor tersebut kadang masih dialami Upit. ’’Berkebun itu nggak usah dipaksakan, harus dengan hati yang ceria dan perasaan yang senang,’’ jelasnya.

Bersyukur Bisa Menginspirasi Banyak Orang

BERANGKAT dari aktivitas berkebunnya, Upit yang juga hobi menulis lantas membuat akun Facebook dengan nama Hidroponik ID. Sehari-hari dia aktif menulis tip dan kiat-kiat budi daya tanaman dengan cara hidroponik.

Akun yang memiliki pengikut hampir 2 ribu orang itu kerap penuh oleh pertanyaan-pertanyaan dan komentar orang dari seluruh Indonesia yang tidak Upit kenal. Dengan senang hati, dia terus menjawabnya.

Tidak hanya berkomunikasi melalui dunia maya, mereka yang tergabung pada jejaring akun itu kerap menyambangi rumah Upit untuk melihat kebun hidroponiknya secara langsung. Jangan salah, bukan orang Surabaya saja, tetapi dari luar kota pun ikut datang untuk berbagi ilmu berkebun. ”Bulan lalu pas lagi santai, tiba-tiba ada sekeluarga datang dari Mojokerto. Mereka minta diajari cara membuat hidroponik ini,” jelasnya.

Perempuan berambut pendek itu mengungkapkan, rata-rata satu bulan ada sekitar tiga hingga empat kali kunjungan dari orang-orang yang tidak dikenalnya. Rata-rata adalah keluarga. Tujuannya sama, mempelajari cara berkebun hidroponik. Yang paling jauh rombongan ibu-ibu arisan dari Banjarmasin.

Hobi itu pun mulai dirasa menguntungkan bagi Upit. Terutama keuntungan dari segi psikologis alias kepuasan pribadi. ”Pulang kantor selalu merasa segar dan dingin,” ujar perempuan yang bekerja sebagai social media manager sebuah perusahaan swasta tersebut. Selain itu, dia tidak pernah repot membeli sayur dan menurutnya berbagi itu selalu menyenangkan. (ndi/c15/c6/dos)

Sumber: Jawa Pos – For Her

You may also like

1 comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.