50 Tahun Bina Swadaya: Piala Kusala, Palugada dan Trubus.id

Bina Swadaya

Bina Swadaya adalah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat yang didirikan pada tanggal 24 Mei 1967. Dari awal berdiri, Bina Swadaya fokus melayani dan memberdayakan masyarakat. Sebagai wahana pemberdayaan masyarakat yang mandiri dan konsisten, lembaga ini telah melakukan aksi konkret di masyarakat, di antaranya melakukan pendampingan, pembelajaran hingga menyebarkan informasi kepada masyarakat. Di usia yang menginjak 50 tahun, Bina Swadaya tidak terlena dengan berbagai keberhasilan yang telah dicapai dan bertekad untuk terus memberikan sumbangsih kepada bangsa dan negara ini. Untuk mewujudkannya, Bina Swadaya merangkul kalangan pemuda dan membentuk media massa kekinian berbasis digital (internet) yang diberi nama Trubus.id 🙂

Piala Kusala

Beberapa waktu lalu Bina Swadaya mengadakan kompetisi untuk meraih penghargaan Trubus Kusala Swadaya 2017

Sesuai dengan tema, penghargaan ini diberikan kepada anak muda berusia 25-35 tahun yg kreatif & inovatif. Ibu Sri Palupi selaku dewan juri mengatakan bahwa ada 3 aspek penilaian pemenang penghargaan ini, yaitu: inovasi, keberlanjutan program, berdampak baik pada lingkungan dan sosial. Beruntungnya aku dan rekan-rekan blogger pada hari Jumat, 14 Juli 2017 lalu mendapat kesempatan untuk hadir menyaksikan penyerahan penghargaan Trubus Kusala Swadaya 2017  ini di Hotel Bidakara Grand Pancoran, Jakarta Selatan.

Semua nominasi yang akan menerima penghargaan tak hanya hadir untuk menerima piala dan piagam, namun mereka juga mendapat kesempatan untuk memamerkan hasil kreasi dan inovasi mereka dalam bentuk mini stand di dalam auditorium Bina Karna Hotel Bidakara. Para nominasi itu adalah:

Bina Swadaya Konsultan

Ada produk yang menarik perhatianku, yaitu Madu “Gajeboh”. Madu ini adalah madu hutan alam yang diproduksi di Kampung Gajeboh (salah satu kampung Baduy).

Madu ini dihasilkan dari hutan yang masih alami dan terbebas dari pencemaran lingkungan, termasuk dalam kategori madu alam murni tanpa campuran bahan-bahan lain sehingga khasiat alami madu dapat benar-benar dirasakan. Madu ini hanya diproduksi kurang lebih 35 kg setiap bulannya.

Madu ini bermanfaat dalam membantu:

a) Memperkuat sel darah putih

b) Meningkatkan kesuburan/gairah suami istri

c) Pengobatan Alergi

d) Menstabilkan tekanan darah

 

Agroekologi Indonesia (AGNI)

Reka Agni, selaku founder memberdayakan perempuan di lingkungan sekitarnya untuk menghasilkan berbagai produk pertanian serta menerapkan agroekologi di Sukabumi dengan konservasi tanah, kultur, yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Pemasaran dan distribusi hasil pertanian seringkali menjadi persoalan yang dihadapi petani. Karena itu diperlukan penataan produksi, distribusi, dan pemasaran alternatif. Di antaranya dengan memperpendek rantai penghubung antara petani sebagai produsen dengan konsumen.

Dengan tujuan tersebut, pengelola Kebun Cijapun ––sebuah proyek agroekologis (pertanian ekologis) di pedalaman Selatan Kabupaten Sukabumi, merancang pemasaran hasil pertanian rantai pendek. Baik untuk pemasaran hasil pertanian kebun Cijapun maupun hasil pertanian petani setempat (Mitra Cijapun).

Saat ini, produk yang telah dipasarkan antara lain adalah beras hitam dan beras merah alami, benih agroekologi serta KRIAT (Keripik Rakyat) produksi Ibu-ibu sekitar kebun Cijapun dan Sukatea, minuman berbahan dasar Tisane tea berasal dari bunga dan daun teh alami. AGNI berhasil meraih penghargaan TRUBUS KUSALA SWADATA kategori INDIVIDU.

Tenun Lodan Doe

Berakar pada konsep pemberdayaan dan pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial yang berorientasi pada masyarakat, mengedepankan partisipasi, dan bersifat sustainable.

Lodan Doe dari Nusa Tenggara Timur (NTT) memberdayakan perempuan kepala keluarga di Flores dengan membentuk rumah inisiatif serikat pekerja yang memiliki berbagai kegiatan.

Ya namanya juga serikat pekerja ibu-ibu, pastinya nggak jauh dari yang namanya ARISAN! Arisan ibu-ibu Lodan Doe ini bukan sembarang arisan, tapi arisan tenun, arisan bangun rumah dan mendirikan swalayan Pekka Mart.

Foto bersama kak Bernadette, Founder Tenun Lodan Doe

Kin tenun NTT bukanlah kain tenun biasa. Ada banyak cerita dan kisah yang mampu membuat kita para perempuan yang tinggak di ibukota terhenyak dan merasa bersyukur.

Kak Bernadette mengatakan bahwa butuh perjuangan keras dalam memberdayakan perempuan di lingkungannya karena terhalang oleh buadaya patriaki dimana perempuan harus tunduk kepada laki-laki dan tidak boleh berprestasi, menghasilkan sesuatu atau bekerja. Usaha tak pernah mengingkari hasil! Segala ancaman pembunuhan hingga pengrusakan lokasi pembuatan tenun berhasil ia lalui. The power of emak-emak yang bersatu dan solid, Tenun Lodan Doe berhasil meraih penghargaan TRUBUS KUSALA SWADAYA 2017 kategori Khusus.

Virage Awie (Komunitas Bambu Indonesia)

Komunitas ini berisi anak-anak muda yang mempopulerkan alat musik dari bambu dan turut memberdayakan pemuda sekitar yang tidak memiliki pekerjaan.

Kelahiran komunitas ini tak lepas dari rasa prihatin Adang Muhidin, yang mengemban amanah sebagai Ketua Indonesian Bamboo Community (IBC). Sejarah kemunculan komunitas ini, paparnya, berawal dari rasa kecintaannya terhadap bambu. Bahkan ia sempat tergabung dalam sebuah perkumpulan pecinta angklung. Lahirnya komunitas, terdorong oleh rasa prihatin, karena pembudidayaan bambu di Indonesia sangat minim, bahkan terkesan diabaikan warga pribumi sendiri. Padahal, menurutnya, di luar negeri, contohnya di Jerman, bambu sangat dihargai dan dioptimalkan pendayagunaannya.

Tahun 2011, tepatnya 30 April, ia bertemu dengan seorang pengerajin bambu bernama Abah Yudi Rahmat, beliau sejak tahun 1979 telah membuat alat musik bambu, yang kala itu tengah memainkan sebuah biola bambu di kawasan Budaya Mukti dekat daerah Saparua. Lalu ia tertarik dan melakukan perbincangan, yang kemudian menjadi titik awal terbentuknya Komunitas bambu di Bandung. Komunitas ini meraih penghargaan TRUBUS KUSALA SWADAYA 2017 kategori Kelompok.

Hysteria

HYSTERIA ini bukan komunitas anak-anak muda yang doyan teriak-teriak histeris kok! Bukan itu yaaa 😂 HYSTERIA adalah komunitas anak muda SEMARANG yg melakukan inovasi di perkotaan & merawat kampung.

Sebagai komitmen terhadap isu kota, bersama Rujak Center for Urban Studies dan lembaga partner, Hysteria membidani lahirnya ‘Unidentified Group Discussion’ yang pada akhirnya bertransformasi menjadi platform ‘Peka Kota’ yang fokusnya mendorong partisipasi warga dalam membentuk kota dengan satu term ‘Urbanisme Warga’.

 

Hingga saat ini tercatat berbagai lembaga yang pernah bekerjasama dengan kami, antaranya Hivos, Rumah Lebah, Rujak Center for Urban Studies, Ushahidi, Ford Foundation, Yayasan Kelola, Kontras, Goethe Institut, Japan Foundation, British Council, dan lain-lain.

Pertengahan 2008, komunitas ini menyewa rumah di Jalan Stonen 29 yang difungsikan sebagai ruang seni dan diskursus. Ruang ini adalah kelanjutan proyek seni ‘Grobak Art’ yang merupakan angkringan atau tempat jualan nasi kucing setahun sebelumnya di Jalan Atmodirono. Tahun 2011 Hysteria berbadan hukum. Komunitas ini mendapat penghargaan TRUBUS KUSALA SWADAYA 2017 Kategori Kelompok.

Terhitung sejak tahun 2007, Bina swadaya telah mengadakan 4 kali pemberian penghargaan yang ditujukan bagi para pelaku kewirausahaan sosial dengan kriteria tertentu. Kegiatan ini diharapkan menjadi penguat motivasi dan komitmen para individu, kelompok, lembaga, maupun organisasi untuk melakukan kegiatan pemberdayaan berkelanjutan.

PALUGADA (APA ELU MAU GUE ADA): Hajat Setengah Abad

Spirit pendiri dan pengurus Bina Swadaya bukan hanya perlu didengarkan, tetapi dilaksanakan dan disesuaikan dengan zaman yang telah berubah. — Bambang Ismawan

Buku adalah tradisi Bina Swadaya, penerbitan informasi adalah perjalanan pelayanan Bina Swadaya. Melalui penerbit buku dan majalah Trubus, Bina Swadaya hadir menebar informasi kepada masyarakat. Menandai setengah abad usia Bina Swadaya buku ini berguna sebagai pengingat bahwa perjalanan pengabdian dan pelayanan masih belum selesai. Tongkat estafet telah diserahkan kepada generasi muda Bina Swadaya.

Trubus.id

Trubus.id bertekad untuk menjadi media informasi yang mengajak anak muda agar menjaga alam tetap hijau dan lestari sehingga dikenal sebagai The Green Digital. 

Dengan hadirnya media ini diharapkan juga akan menumbuhkembangkan kepedulian dan respek khususnya di kalangan pemuda pada bidang pertanian, kelautan, kewirausahaan dan alam sekitarnya.

 

Dalam tampilannya, Trubus.id menyajikan konten-konten yang menarik dan kekinian, seperti gaya hidup, inovasi, juga mengabarkan peristiwa yang sedang terjadi dan perhatian dari masyarakat luas. Dan tentunya, segala informasi yang disajikan sesuai dengan tujuan dan cita-cita Bina Swadaya.

Tampilan website di laptop

Selamat ulang tahun Bina Swadaya. Sukses selalu ya!

Anggota Blogger KomunitasISB yang hadir. Rameee!

 

 

 

You may also like

4 Comments

Leave a Reply